Kali ini, Fieldtrip angkatan 7 UKF ke Pusat Penyelamatan Satwa Cikananga (PPSC) yang terletak di Sukabumi. Rencana awal, kami berangkat dari IPB pukul 11.00 WIB. Tapi semalam sebelum keberangkatan, diubah menjadi jam 09.00 WIB.
Setelah berkumpul di depan SC, kami dibacakan pembagian kelompok dan kami naik ke truk jam 09.00 WIB. Perjalanan di mulai dan kami berpanas-panas ria. Kebetulan saya mendapat tepat untuk duduk. Walaupun setiap kali perjalanan UKF dengan menggunakan truk, tapi suasana tetap ceria dan menyenangkan.
Sekitar setelah satu jam perjalanan, saya merasa mual. Mungkin karena keadaan yang sesak dan panas. Saya memutuskan untuk berdiri saja dan berpegangan. Walaupun terkena terpaan angin kencang, rasa mual saya hilang dan saya bisa melihat-lihat keadaan sekitar. Beberapa dari teman saya ada yang mabuk perjalanan, dan adapula yang kram.
Jam 13.00 kami berhenti di Masjid untuk shalat dan makan. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan yang diperkirakan kami akan sampai tujuan jam 15.00. Sekitar jam 14.00 ketika sudah hampir sampai ke tempat tujuan, hujan turun dengan deras. Kami segera menutup terpal truk dan kami sibuk memegangi terpal seperti patung Liberty.
Sesampainya di lokasi, kami langsung masuk ke Dormitory karena masih hujan. Kami yang wanita menempati Dormitory Pria, sedangkan yang pria menempati Dormitory Wanita. Mengapa? Karena Dormitory Pria memiliki kapasitas yang lebih banyak, dan peserta yang ikut lebih banyak wanita.
Kami langsung memilih tempat tidur dan saya bersama Feni. Setelah membongkar packing dan beres-beres, saya menemukan headset saya dalam keadaan mengenaskan, yaitu bagian karet earphone-nya lepas dan hilang karena saya taruh dalam kantung celana. Tapi untung saja tidak rusak, masih bisa keluar suara, namun sangat tidak nyaman digunakan.
Kami diberi waktu untuk istirahat dan shalat sampai jam 16.30 WIB setelah kami berkumpul di tempat makan untuk diberikan beberapa pengarahan, yaitu mengenai kegiatan apa saja yang akan kami lakukan selama di PPS Cikananga.
Menunggu waktu makan yang dijadwalkan pukul 18.00 WIB, saya, Feni, Nafi, Nida, Resti, Surya, dan Aziz memetik jambu, foto-foto, dan berjalan-jalan disekitar dormitory. Lalu kami ikut nonton TV dan foto-foto di pos penjagaan, disana ada Syifak dan Dony. Kami nonton film Kapten Tsubatsa sampai pada akhirnya Kak Agung datang memanggil untuk makan malam.
Setelah makan malam, jam 19.00 WIB kami berkumpul di Aula untuk mendapatkan kuliah mengenai PPS Cikananga dan satwa liar. Tujuan didirikannya PPS Cikananga adalah untuk membantu pemerintah dalam upaya penyelamatan dan pelestarian satwa liar. PPS Cikananga merupakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)/Non-Government Organization (NGO) yang berdiri dengan latar belakang pemeliharaan kelestarian satwa liar dan melawan perdagangan satwa liar. Kegiatan penyelamatan Satwa yang dilakukan diantaranya penyitaan, menerima penyerahan secara sukarela dari pemilik satwa liar, dan pemindahan ke PPSC.
Banyak sekali pengalaman dan kisah-kisah yang diceritakan oleh Pak Budianto (Manajer Humas PPSC). Salah satu cerita mengenai satwa liar yang paling menyentuh hati saya dan saya hampir menitikan air mata, yaitu mengenai anak orang utan yang dipisahkan dari induknya, yang pasti induknya ditembak agar bisa mengambil anaknya. Namun sebelum mati, sang induk sempat memeras susu untuk diberikan kepada anaknya. Selain itu mengenai satwa karnivora yang mati mengenaskan karena infeksi pada gigi akibat dipotong secara paksa.
Hewan-hewan yang masuk ke PPSC berusaha dikembalikan sifatnya menjadi liar kembali. Pelepasan satwa ke habitat asli untuk melestarikan satwa liar agar tidak punah. Salah satu upaya untuk meliarkan kembali adalah dengan memberikan enrichment pada furniture kandang.
Setelah selesai pemberian kuliah, kami dibagi menjadi delapan kelompok untuk membersihkan kandang, memberi makan, dan enrichment pada kandang. Diantara satwa-satwa yang akan kami bantu tangani adalah orang utan, binturung, siamang, kakak tua, beruang, bayan, dan kura-kura tanah. Dalam membantu menagani satwa, kami harus berhati-hati dan dilarang menyentuh satwa tersebut. Saya, Ajis, Seken, Mahardika, Ichi, dan Nafi bertugas membantu di kandang binturung.
Keesokan harinya setelah makan pagi, kami berkumpul sesuai kelompok. Kejadian salah seorang teman kami tidak membawa sepatu untuk kegiatan lapang. Saya lupa memberitahunya untuk membawa sepatu, karena saya pikir pasti dia akan membawa safety prosedure untuk setiap kegiatan lapang UKF. Setelah dipinjamkan sepatu dan urusan selesai, kami menuju ke tempat penyimpanan makanan. Disana kami bertemu dengan enam animal keeper yang sedang menyiapkan makanan dan porsi-porsi untuk diberikan ke satwa. Animal keeper kelompok saya dan kelompok Beruang adalah Pak Alen. Makanan yang diberikan untuk beruang adalah semangka, pisang, dan kokosan yang disembunyikan di dalam kardus. Kelompok Beruang seharusnya menyiapkan enam kardus untuk enam beruang, namun karena ada misscomunication, kelompok Beruang menggabungkan jatah untuk dua beruang di dalam satu kardus. Selain itu beruang juga diberikan kelapa.
Makanan untuk binturung berupa daging ayam dan buah-buahan seperti apel, kokosan, pisang, dan melon. Kami sempat bingung, karena binturung merupakan hewan karnivora. Tergelitik dengan rasa ingin tahu, saya mencoba bertanya dengan Pakde Google, dan Pakde Google menyarankan agar saya bertanya dengan Om Wikipedia. Om Wiki menjelaskan bahwa binturung adalah hewan karnivora yang makanan utamanya berupa buah-buahan yaitu Ara di hutan (jadi karnivora atau omnivora?) Kata Om Wiki sih tetap karnivora.
Kami menuju kandang binturung dan beruang yang ada ditempat yang sama (kadang karnivora), yang merupakan kandang sosialisasi. Pertama kali bagi saya dan teman-teman saya melihat binturung, yaitu sejenis musang yang bertubuh besar, memiliki kumis seperti kucing, berambut panjang dan kasar, serta ukuran ekornya pun lebih besar dan panjang.
Binturung merupakan hewan nocturnal (aktif pada malam hari) dan diatas pepohonan (arboreal), walaupun turun juga ke tanah. Oleh karena itu kandang binturung berisi banyak tumbuhan dan beberapa batangan kayu yang disusun agar menyerupai dahan-dahan di hutan sehingga binturung bebas untuk memanjat dan melompat diatasnya.
Binturung yang ada dikandang berjumlah dua. Yang berwarna hitam bernama Raven, sudah ada di PPSC selama enam tahun, merupakan hasil sitaan dari Bandung. Yang berwarna abu-abu bernama Urong, sudah ada di PPSC selama tujuh tahun, merupakan sitaan dari Lampung. Keduanya berjenis kelamin betina.
Saya, Ichi, dan Nafi bertugas membersihkan kandang. Sedangkan Seken, Ajis, dan Mahardika membuat kotak untuk tidur sebagai enrichment. Sistem membersihkan kandang yang dilakukan adalah sistem putar. Pertama-tama kami membersihkan kandang kecil dengan cara menyapu dengan sapu lidi dan sikat, lalu disiram dengan air, dan disapu kembali air tersebut. Setelah kandang kecil bersih, binturung dipindahkan ke kandang kecil dengan membuka gerbang kecil. Lalu kami pindah membersihkan kandang besar . Pertama-tama kami menyapu kotoran binturung (yang membuat saya ingin muntah karena tidak memakai masker), setelah itu membersihkan kolam. Lalu kami meletakan makanan untuk binturung dengan menyembunyikan di bebrapa tempat. Sambil menunggu teman-teman yang membuat kandang, kami membersihkan bagian luar kandang dan membantu kelompok Beruang memberi makanan tambahan untuk beruang, yaitu buah pisang dan kokosan yang dimasukkan dalam bambu dan diberi lumuran madu, dan ujungnya ditutup dengan batang. Beruang membuka bambu tersebut dengan mencakarnya.
Selesai membuat kotak tidur dan dimasukkan ke dalam kadang, binturung segera dipindahkan kembali ke kandang besar. Kami melihat binturung masuk ke kandang besar dan mereka langsung makan makan, terutama mereka memilih ayam.
Pukul 11.00 kami disuruh untuk kembali ke tempat makan, karena batas waktu yang ditentukan dan kelompok lain sudah selesai lebih dulu. Setelah bersih-bersih, kami berkumpul ke tempat makan untuk mendiskusikan hasil pengamatan. Setelah itu kami menuju aula untuk mempresentasikan masing-masing kelompok.
Selesai presentasi kami makan siang, dan sekitar pukul 14.00 kami kembali menaiki truk untuk perjalanan pulang. Untungnya perjalanan pulang tidak hujan dan kami bisa menikmati pemandangan sekitar saat jalan meninggalkan PPSC. Kami dapat melihat jejeran gunung dan perkebunan teh sekitar, yang tidak bisa kami lihat saat perjalanan berangkat. Kami juga menikmati perjalanan dengan truk seperti naik kora-kora (walaupun kurang dahsyat memacu adrenalinnya) dan suasana perjalanan pulang menyenangkan seperti perjalanan berangkat. Namun kami merasa sangan cepat sekali meninggalkan PPSC.
Kami sempat berhenti di Masjid untuk shalat Ashar, dan kembali melanjutkan perjalanan hingga matahari meninggalkan kami ke dunia barat. Saya lebih memilih banyak berdiri saat perjalanan pulang. Sangat seru ketika perjalanan memasuki kota Bogor di malam hari, melihat lampu-lampu yang menyala di malam hari. Kejadian salah seorang teman yang tidur sangat pulasnya, sampai-sampai dia tidak terbangun dengan keadaan disekitarnya yang berisik dan hiruk pikuk. Baru terbangun ketika hampir sampai di IPB.
Sampai kembali di depang Gym IPB jam s19.30. Teman saya ada yang keliru membawa tas Kak Angga, sehingga saya menelponnya untuk kembali menukarkan tasnya. Kami berkumpul sebentar diberikan informasi, melakukan salam UKF, dan kembali menuju peraduannya masing-masing. Beberapa makan bersama di Bara, namun saya lebih memilih kembali ke asrama.
Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari fieldtrip kali ini. Peduli akan kelestarian satwa liar dan ikut membantu menjaganya dalam proses karantina agar kembali menjadi liar. Saya ingin sekali bisa kembali ke PPSC dan membantu merawat satwa-satwa karantina tersebut. Saran untuk pemerintah agar bentindak lebih tegas lagi terhadap oknum-oknum yang merusak habitat satwa liar (pembalakan hutan), menindak tegas perdagangan satwa liar, dan mengalokasikan dana untuk kelestarian satwa liar. Bagi kita generasi muda, jangan sampai kita ikut menjatuhkan satwa liar ke dalam lubang kemusnahan, dan berjuang untuk membantu keeksistesian satwa liar agar anak-cucu kita bisa melihat dan tahu akan satwa yang ada, terutama di Indonesia.







